Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Asma Bronchiale


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
          Asma Brochiale adalah suatu gangguan pernapasan yang dicetuskan oleh hipersensitivitas bronchs terhadap berbagai rangsangan,baik dari dalam ataupun luar tubuh. Mengakibatkan hiperaktivitas bronchus dan penyempitan saluran napas yang ditandai dengan gejala-gejala yang khas,yaitu batuk dan sesak napas yang disertai wheezing.
          Penyakit asma dapat diderita oleh semua lapisan masyarakat,baik pada usia anak maupun dewasa. Timbulnya serangan asma juga sangat bervariasi, factor pencetusnya dapat bersifat tunggal maupun jamak. Dalam tatalaksana penyakit asma perlu dilakukan secara terpadu,kuratif dan rehabilitative serta secara medika mentosa maupun non medika mentosa.
          Penyakit asma telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu dan sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Di Indonesia diperkirakan 2-5% pendududk menderita oenyakit yang ditandai dengan adanya batuk,sesak napas dan mengi. Angka kejadian asma pada bayi dan anak leboh tinggi dibandingkan  pada orang dewasa. Meskipun demikian, serangan asma untuk pertama kali tidak selalu terjadi pada masa anak-anak.

B. Rumusan Masalah
          Bagaimanakah IR, Tapotement, batuk efektif, breathing exercise dapat mengurangi sesak nafas, spasme otot-otot pernafasan, membantu  mengeluarkan   sputum  dan meningkatkan  expansi sangkar thorax pada penderita Asma ?

C. Tujuan Penulisan
          Untuk mengetahui pengaruh, IR, Tapotement, batuk efektif, breathing exercise dapat mengurangi sesak nafas, mengurangi spasme otot pernafasan, meningkatkan expansi thorax, dan membantu mengeluarkan sputum pada penderita Asma.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi fisiologi

1. Anatomi Saluran Pernafasan
          Fungsi utama pernafasan adalah pertukaran gas, dimana O2 akan diambil dari   alveolus dan dibawa oleh hemoglobin menuju ke jaringan yang akan diperlukan dalam proses  metabolisme, CO2  sebagai  hasil dari  sisa metabolisme akan dibuang saat ekspirasi.
          Secara anatomi pernafasan dimulai dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkeolus, paru-paru.
1.1. Hidung
          Merupakan saluran nafas pertama yang dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia dan juga selaput lendir. Saluran ini dilapisi dengan epithelium silinder dan sel epitel berambut, yang mana udara akan disaring, dihangatkan dan dilembabkan.Ketiga proses tersebut merupakan fungsi utama rongga hidung sebagai bagian dari respirasi.
1.2. Faring
          Sebuah pipa musculo membranosa, panjangnya 12-14 cm membentang dari basis cranial sampai setinggi verterbra servikalis. Lebar faring dibagian superior ± 3,5 cm. Faring terdiri dari : Nasofaring (bagian yang berbatasan dengan rongga hidung), Orofaring (bagian yang berbatasan dengan rongga mulut), Hipofaring (bagian  yang  berbatasan dengan  laring, yakni pemisahan antara udara dan makanan).
1.3. Larynx (tekak)
          Larynx merupakan saluran udara yang bersifat sphingter dan juga organ pembentuk suara, yang membentang antara lidah sampai trakea. Letak larynx didepan  bagian  terendah  faring yang memisahkan dari kolumna vertebra, berjalan dari farynx sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea di bawahnya. Fungsi larynx sebagai jalan udara dan celah suara diantara pita suara sebagai pelindung dari jalan udara. Diantara pita suara terdapat glotis yaitu pemisah antara saluran pernafasan dan pencernaan.
1.4. Trakea
          Trakea merupakan pipa udara yang terbentuk dari tulang rawan dan selaput fibro muscular, panjang trakea ± 10-11 cm, tebal 4-5 mm, diameter 2,5 cm dan luas permukaan 5 cm2. Bagian belakang trakea terdapat 16 -20 cincin tulang rawan yang    membentuk huruf ” U”. Adanya cincin tersebut menyebabkan trakea selalu terbuka, sehingga dapat bernafas dengan leluasa. Trakea bercabang menjadi 2 yaitu bronkus kiri dan bronkus kanan.
1.5. Bronkus
          Bronkus merupakan percabangan dari trakea yang membentuk bronkus kanan  dan  bronkus kiri, antara bronkus kanan dan bronkus kiri tidak sama, karena bronkus kanan lebih pendek dan lebar dari pada bronkus kiri, kemudian bronkus kanan bercabang  menjadi  tiga  bronkus  sedangkan  bronkus kiri bercabang menjadi dua bronkus.
1.6.  Bronkeolus
           Cabang-cabang yang lebih kecil dan keluar dari bronkus,bronkeolus tidak  diperkuat  oleh  cincin  tulang  rawan tetapi otot polos sehingga dapat berubah ukurannya.
1.7.  Paru-paru
          Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan puncak (apex) diatas dan muncul sedikit lebih tinggi dari klavikula didalam dasar leher. Paru-paru dibungkus oleh pleura, paru-paru di bagi menjadi 2: paru kanan dan paru kiri, paru kanan lebih besar dari paru kiri, karena paru kanan terdapat 3 lobus dan 10 segment,sedangkan paru kiri terdapat 2 lobus dan 8 segment yaitu :
1). Paru kanan
a). Lobus Superior
          (1). Segment Apikal
          (2). Segment Posterior
          (3). Segment Anterior
b). Lobus Medius
          (1). Segment Lateralis
          (2). Segment Medialis
c). Lobus Inferior
          (1). Segment Superior
          (2). Segment Mediobasal
          (3). Segment Anterobasal
          (4). Segment Laterobasal
          (5). Segment Posterobasal

2). Paru kiri
a). Lobus Superior
          (1). Segment Apicoposterior
          (2). Segment Anterior
          (3). Segment Lingula Superior
          (4). Segment Lingula Inferior
b). Lobus Inferior
          (1). Segment Superior
          (2). Segment Anteromediobasal
          (3). Segment Laterobasal
          (4). Segment Posteriorbasal

2.  Rongga Dada dan Fisiologi Pernafasan
2.1. Rongga dada
          Thorax atau dada merupakan bagian tubuh yang terletak antara leher dan abdomen.  Rongga  dada  bagian  posterior  terdiri  dari  12 vertebra thorakalis, 12 pasang costa. Sedangkan bagian depan anterior terdiri dari sternum dan cartilago costa. Rongga dada memiliki akses masuk ke dalam lewat  pintu atas dan pintu bawah thorax. Pintu atas thorax yang sempit, terbuka dan berkesinambungan dengan leher sedangkan pintu bawah yang relatif  luas  tertutup  oleh   diafragma.  Fungsi thorax melindungi organ     internal dan memberi ruang untuk proses respirasi.
2.2. Fisiologi Pernafasan
Proses pernafasan dapat di bagi dalam tiga proses utama :
          1. Ventilasi pulmonal, keluar masuknya udara antara dari luar ke alviole paru-paru.
          2. Difusi O2 dan CO2 antara alviole dan darah.
          3. Transportasi O2 dan CO2  dalam dan cairan tubuh ke dan dari sel-sel.

B. Biomekanik 

1. Gerakan pernafasan
          Saat bernafas gerak dinding thorax dan diafragma menghasilkan perubahan diameter dan volume rongga thorax. Saat inspirasi adalah proses aktif kontraksi otot-otot. Inspirasi terjadi bila diafragma telah dapat rangsangan dari n. Prenikus lalu mengerut datar. Rongga dada membesar udara di dalamnya berkurang dan masukan udara di dorong keluar. Jadi proses respirasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.

2. Otot pernafasan
a. Otot inspirasi utama
          - Diafragma
          - External intercostalis
          - Internal intercostalis
b. Otot bantu inspirasi
          - Sternocleidomastoideus
          - Trapezius
          - Seratus
          - Pectoralis mayor dan minor
          - Latismus dorsi
          - Scaleni
c. Otot expirasi utama
          - Internal obliq
          - External obliq
          - Rectus abdominis
          - Tranversus abdominis
d. Otot bantu expirasi
          - Latismus dorsi
          - Iliocostalis lumborum
          - Quadratus lumborum

C. Etiologi
          Asma Bronchiale belum di ketahui dengan jelas. Di duga ada beberapa faktor pencetus yang menyebabkan bronkus bereaksi secara berlebihan.
          Meskipun yang mendasari penyakit asma bronchiale ada bronkus yang bereaksi berlebihan, kondisi ini bukanlah satu-satunya faktor yang menimbulkan terjadinya gejala asma Bronchiale. Ada beberapa faktor pencetus lain :

1.   Alergen
          Adalah zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Alergen dapat masuk kedalam tubuh melalui beberapa cara seperti melalui makanan, minuman dan suntikan.
          Beberapa contoh alergan antara lain :
          - Kacang – kacangan
          - Susu
          - Telur
          - Ikan Laut
          - Obat-obatan tertentu, seperti : Aspirin, obat anti Rheumatik, dll.
2. Infeksi saluran Napas
3. Polusi Udara
4. Aktivitas Fisik
5. Fakto Emosi
6. Cuaca

D. Patologi
          Pada saat pertama kali masuk kedalam tubuh, alergan akan merangsang sistem pertahanan tubuh untuk menghasilkan zat anti yang lebih di kenal dengan nama imunoglobulin E (IgE) tubuh penderita alergi sangat rendah memproduksi IgE yang sangat spesifik terhadap alergan yang merangsangnya.
          Pada saat penderita alergi IgE selain beredar dalam darah juga menempel pada basofil (sejenis sel darah putih) dan mastosid ( terdapat dalam jaringan terutama pada saluran napas, serna dan kulit), jika suatu saat penderita berhubungan lagi dengan alergan tadi akan berkaitan dengan IgE yang telah menempel pada mastosid, mastosid akan mengeluarkan zat kimia yang disebut mediator ke jaringan sekitarnya. Mediator inilah yang menyebabkan berbagai gejala alergi, jika mediator ini di lepaskan pada saluran napas maka akan menyebabkan penyempitan saluran napas (obstruksi) dan dapat menimbulkan serangan asma.

E. Gambaran klinik
Di tandai dengan :
- Adanya sesak nafas
- Adanya wheezing (batuk yang di sertai mengi)
- Sputum yang sulit di keluarkan
- Cemas, gelisah, banyak keringat, rasa mual, pucat
- Postural yang buruk
- Frekuensi pernapasan yang meningkat.

F. Modalitas Fisioterapi

1. Postural drainage
          Merupakan suatu teknik untuk mengalirkan sekresi dari berbagai segmen menuju saluran nafas yang lebih besar, dengan menggunakan pengaruh gravitasi dan pengaruh posisi pasien yang sesuai dengan letak sputumnya. Sebelum dilakukan PD memperbanyak minum dahulu, ± 1 jam sebelum dilakukan PD.

2. Tapotement
          Tapotement adalah teknik cupping yang dilakukan dengan menepuk-nepuk telapak tangan secara ritmik dan berirama pada dinding thorax, punggung dan daerah costa samping kanan dan kiri. Tapotement diberikan bersamaan dengan PD dan dapat juga selama penyinaran IR dengan ± 10-15 mnt. Tujuannya untuk memindahkan sputum ke cabang bronkus utama yang kemudian pasien disuruh untuk batuk.

          3. Batuk efektif
Batuk merupakan suatu gerakan reflek untuk mengeluarkan benda asing atau sputum dari dalam saluran pernafasan. Dalam latihan batuk harus di lakukan dengan benar yaitu dengan pengembangan daerah perut dan pinggang secara perlahan-lahan yang bertujuan untuk pengisian udara pada daerah bronkiolus tanpa menyebabkan sekresi tersebut terbawa masuk lebih dalam pada saluran bronkiolus.
          Posisi  pasien pada  batuk efektif yang benar adalah posisi pasien duduk dengan  badan  agak  condong   ke depan agar  memudahkan kontraksi otot dinding perut dan dada sehingga menghasilkan tekanan abdominal yang benar. Teknik pelaksanaan batuk efektif yaitu pasien tarik nafas lewat hidung pelan dan dalam, kemudian menahan nafas beberapa saat (2-3dtk) selanjutnya pasien disuruh mengontraksikan otot perut sambil mengeluarkan nafas dengan dibatukan. Batuk dilakukan sebanyak 2 kali dengan mulut terbuka dan dilakukan setelah respirasi sebanyak 2-3 kali, batuk yang pertama akan melepaskan sputum dari tempat perlengketannya dan batuk yang kedua akan membantu mengeluarkan sputum dari saluran pernafasan.

4. Breathing exercise
          Latihan ini meliputi latihan pernafasan dada dan perut. Melakukan latihan yang benar adalah tarik nafas lewat hidung dan hembuskan lewat mulut. Latihan ini bertujuan untuk memperbaiki ventilasi udara, melatih pernafasan diafragma, memelihara elastisitas jaringan paru-paru dan menjaga expansi thorax.

5. Mobilisasi sangkar thorax
          Latihan ini meliputi gerakan-gerakan pada trunk dan anggota gerak atas,dapat dilakukan bersamaan dengan  breathing exercise. Sehingga otot-otot pernafasan dan otot bantunya yang mengalami ketegangan akan menjadi rilex

6. IR (infra red)
          Penyinaran diberikan pada daerah dada dan punggung atas. Lamanya penyinaran ± 15 mnt, dibagi 2 = bagian dada 7,5 mnt dan bagian punggung atas 7,5 mnt. Tujuan penyinaran untuk mendapatkan relaksasi lokal pada daerah dada dan punggung juga untuk memperbaiki sirkulasi darah (fasodilatasi pmbuluh darah).


 

Penatalaksanaan Infra Red Radiating (IRR) dan Terapi Latihan Pada Penderita Pasca Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
          Menurut data epidemiologi pada orang dewasa insiden fraktur klavicula sekitar 40 kasus dai 100.000 orang, dengan perbandingan laki-laki perempuan adalah 2 : 1. Fraktur pada midhumerus yang paling sering terjadi yaitu sekitar 85% dari semua fraktur humerus, sementara fraktur bagian distal sekitar 10% dan bagian proximal sekitar 5%. Sekitar 2% sampai 5% dari semua jenis fraktur merupakan fraktur humerus.

          Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon, frekuensi fraktur humerus sekitar 1 kasus dari 1000 orang dalam satu tahun. Fraktur klavicula juga merupakan kasus trauma pada kasus obstetrik dengan prevalensi 1 kasus dari 213 kasus kelahiran anak yang hidup.

          Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatam (fisik, elektroterapeutis dan mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi. Oleh karena itu penulis perlu mengangkat kondisi mengenai
 faktur humerus sinistra 1/3 distal ini untuk dijadikan bahan makalah agar lebih memahami dan memberikan informasi tentang kasus faktur humerus sinistra 1/3 distal

B. Identifikasi Masalah 
          Secara umum problematik faktur humerus sinistra 1/3 distal terdiri dari, yaitu :

1. Nyeri
          Nyeri yaitu suatu perasaan yang tidak enak yang disampaikan kepada otak oleh neuron sensori. Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
2. Keterbatasan Luas Gerak Sendi (LGS)
          Keterbatasan luas gerak sendi (LGS) terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot.
3. Oedem
          Oedem yaitu meningkatnya cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler. Oedem terjadi karena adanya penumpukan cairan serosa (protein plasma) yang terlokalisir pada daerah fraktur.
4. Spasme Otot
          Spasme otot adalah ketegangan pada tonus otot. Spasme otot terjadi karena kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.

C. Pembatasan Masalah
          Karena banyaknya permasalahan yang terjadi pada kondisi Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra, maka penulis memberikan batasan pada penurunan nyeri dan peningkatan lingkup gerak sendi dengan menggunakan modalitas IRR dan terapi latihan.

D. Rumusan Masalah
          Berdasarkan permasalahan pada kondisi fraktur Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra, maka penulis dapat merumuskan masalah :
  1. Bagaimana pengaruh IRR terhadap pengurangan nyeri pada kondisi Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra?
  2. Bagaimana pengaruh terapi latihan terhadap pengurangan nyeri dan  peningkatan lingkup gerak sendi pada kondisi Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra?

E. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
  • Untuk mengetahui bagaimana interverensi fisioterapi terhadap kondisi Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra dengan pemasangan plate and screw dengan pemberian modalitas IRR dan terapi latihan.
  • Untuk memperdalam pengetahuan tentang kondisi Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra bagi pembaca dan penulis.
2. Tujuan Khusus
  • Untuk mengetahui pengaruh Infra Red Radiating (IRR) dalam mengurangi nyeri Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra.
  • Untuk mengetahui terapi latihan dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan LGS pada kondisi Fraktur Humerus 1/3 Distal Sinistra.

BAB II
KERANGKA TEORI

A. Deskripsi Teoritis
 
1. Fraktur humerus
a. Definisi
          Fraktur atau patah tulang adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya yaitu diskontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh rudapaksa. Pembagian patah tulang ada 2 yaitu trauma yang menyebabkan patah tulang dapat berupa trauma langsung misalnya benturan keras dan trauma yang tidak langsung misalnya jatuh bertumpu pada tangan.

1. Fraktur tertutup
          Fraktur tertutup yaitu fragmen tulang dari luar tidak nampak, tidak menembus kulit.
2. Fraktur terbuka
          Fraktur terbuka yaitu fragmen tulang Nampak dari luar atau menembus kulit.
Fraktur humerus 1/3 distal adalah fraktur pada tulang humerus1/3 distal yang disebabkan oleh trauma langsung dan tidak langsung.

b. Anatomi Fisiologi
1. Tulang Humerus
          Tulang humerus dibagi menjadi 3 bagian yaitu epiphysis proximal, bagian ini membulat dan bulatanyya disebut caput humeri. Diaphysis ini merupakan bagian tengah disebut dengan corpus humeri dan epiphysis distal mempunyai 2 dataran sendi yaitu capitulum humeri dan trochlea humeri.

2. Otot-otot Extremitas Atas

3. Persarafan Extremitas Atas
a) N. Aksilaris
          Perjalanannya melewati rongga kuadrangularis bersama dengan a. sirkumfleksa posterior humeri. Memberikan: persarafan motoris bagi m. detoideus dan m. teres minor, persarafan sensoris bagi kulit diatas m. deltoideus, dan cabang artikularis untuk artikulasio humeri. Akibat trauma: n. aksilaris terutama mudah terkena trauma akibat pergeseran kaput humerus ke arah bawah saat terjadi dislokasi bahu.
b) N. Radialis
          Perjalanan dan percabangannya berjalan bersama dengan a. profunda brakii antara kaput longum dan medius m. triseps menuju kompartemen  posterior dan ke bawah di antara kaput medius dan lateral m. triseps. Di titik tengah lengan nervus ini memasuki kompartemen anterior dengan menembus septum intermuskularis lateral. Di regio epikondilus lateralis n. radilalis terletak di bawah selubung brakioradialis dan terbagi menjadi ramus superfisialis n. radialis dan n. interoseus posterior.
c) N. muskulokutaneus
          Perjalanannya lewat di sebelah lateral melalui gabungan dua kaput m. korakobrakialis dan kemudian menuruni lengan di antara m. brakiallis dan m. biseps, sambil mempersarafi ketiga otot ini. Nervus ini menembus fasia profunda tepat di bawah siku. Di sini nervus ini mempersarafi lengan  bawah bagian lateral sampai ke pergelangan.
d) N. Medianus
          Pejalanan dan percabangannya n. medianus pada mulanya terletak di sebelah lateral a. brakialis namun kemudian menyilang ke sebelah medial  pertengahan lengan. Di lengan bawah n. medianus terletak di antara fleksor digitorum superfisialis dan fleksor digitorum profunda dan mempersarafi seluruh fleksor sisanya kecuali m. fleksor karpi ulnaris. Sedikit di atas pergelangan tangan nervus ini muncul dari sisi lateral m.  fleksor digiterum superfisialis dan bercabang menjadi cabang kutaneus palmaris yang membawa serabut sensoris pada kulit di atas eminensia tenar.
e) N. ulnaris (C8, T1)
          Perjalanan dan percabangannya berjalan pada m. korakobrakialis menuju pertengahan lengan di mana nervus ini menembus septum intermuskularis medialis bersama dengan a. kolaterallis ulnaris superior dan memasuki kompartemen posterior. Kemudian berbelok di  bawah epikonilus medialis dan lewat di antara dua kaput m. fleksor karpi ulnaris memasuki lengan bawah dan mempersarafi m. fleksor karpi ulnaris dan setengah m. fleksor digitorum profunda. Di lengan  bawah bagian bawah arteri berada di sisi lateral dan tendon m. fleksor karpi ulnaris. Di sini terjadi percabangan menjadi cabang kutanes dorsalis dan palmaris.

4. Biomekanik
a. Gerakan humerus
Posisi awal berdiri tegak dengan lengan di samping tubuh.
(1) Fleksi dan ekstensi
          Feksi adalah gerakan lengan atas dalam bidang sagital ke depan dari 0 ke 180. Gerak ekstensi adalah gerak dari lengan dalam bidang sagital ke belakang dari 0 ke kira-kira 60. Otot-otot yang terlibat yaitu deltoid anterior, pektoralis mayor, teres minor, teres mayor, serratus anterior, infraspinatus, latissimus dorsi.
(2) Abduksi dan adduksi
          Gerak abduksi adalah gerak dari lengan menjauhi tubuh dalam bidang frontal dari 0 ke 180. Gerak adduksi adalah gerak kebalikan dari abduksi yaitu gerak lengan menuju garis tengah tubuh. Otot- otot yang terlibat ialah trapezius upper, trapezius lower dan seratus anterior.
(3) Eksorotasi dan endorotasi
          Bila lengan bawah digerakkan ke dalam tubuh disebut eksorotasi, bila lengan bawah digerakkan keluar tubuh disebut endorotasi. Luas geraknya 90.

5. Patologi
          Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, ada 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur yaitu ekstrinsik (meliputi kecepatan, sedangkan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan), intrinsik (meliputi kapasitas tulang mengabsorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan adanya densitas tulang tulang. yang dapat menyebabkan terjadinya patah pada tulang bermacam-macam antara lain trauma (langsung dan tidak langsung), akibat keadaan patologi serta secara spontan. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar, membengkok, kompresi bahkan tarikan. Sementara kondisi patologis disebabkan karena  kelemahan tuklang sebelumnya akibat kondisi patologis yang terj adi di dalam tulang. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya.

6. Etiologi
1) Trauma
a. Trauma langsung akibat karena pukulan atau benturan pada bahu.
b. Trauma tidak langsung karena jatuh bertumpu pada tangan.
2) Pada bayi baru lahir akibat tekanan pada bahu oleh simphisis pubis selama  proses melahirkan.
3) Kelemahan abnormal pada tulang (faktor patologik).

B. Teknologi Intervensi

1. Infra Merah
          Sinar infra merah adalah pancaran gelombang elektromagnetik dengan  panjang gelombang 7700-4 juta A.

a. Klasifikasi Sinar Infra Merah

1) Berdasarkan Panjang Gelombang
  • Gelombang panjang (non penetrating) Panjang gelombang diatas 12000A sampai dengan 150000A. Daya penetrasi sinar ini hanya sampai kepada lapisan superficial epidermis, yaitu sekitar 0,5 mm.
  • Gelombang pendek (penetrating) Panjang gelombang antara 7700-12000A. Daya penetrasi lebih dalam dari yang gelombang panjang, yaitu sampai  jaringan sub cutan kira-kira dapat mempengaruhi secara langsung terhadap pembuluh darah kapiler, pembuluh lymphe, ujung-ujung syaraf dan jaringan-jaringan lain dibawah kulit.
2) Macam Generator Infra Merah
  • Non luminous
Non luminous hanya mengandung infra merah saja, sering disebut dengan “ Infra Red Radiaton “.
  • Luminous generator 
 Luminous generator mengandung prosentase infra merah, sering disebut dengan “ Radiant Heating “.

3) Efek Fisiologis Sinar Infra Merah
  • Meningkatkan proses metabolisme.
  • Vasodilatasi pembuluh darah.
  • Pigmentasi.
  • Pengaruh terhadap urat syaraf sensoris.
  • Pengaruh terhadap jaringan otot.
  • Destruksi jaringan.
  • Menaikkan temperature tubuh.
  • Mengaktifkan kerja kelenjar keringat.
4) Prosedure Aplikasi
  • Persiapan alat.
  • Persiapan penderita.
  • Pengaturan dosis.
  • Evaluasi.
5) Indikasi dari Sinar Infra Merah
  • Kondisi peradangan setelah sub-acut: kontusio, muscle strain, muscle sprain, trauma sinovitis.
  • Arthtritis: Rheumatoid Arthritis, osteoarthritis, myalgia, lumbago, neuralgia, neuritis.
  • Gangguan Sirkulasi Darah: Thrombo-angitis obliterans, tromboplebitis, Raynold’s disease.
  • Penyakit kulit: folliculitis, furuncolosi, wound.
  • Persiapan exercise dan massage.

6) Kontra Indikasi
  • Daerah dengan insufisiensi pada darah.
  • Gangguan sensibilitas kulit.
  • Adanya kecenderungan terjadinya perdarahan.
7) Bahaya-bahaya
  • Luka Bakar (burn).
  • Electric shock
  • Meningkatkan keadaan gangrene.
  • Headache.
  • Maintness.
  • Chill atau menggigil.
  • Kerusakan pada mata

2. Terapi latihan

          Terapi latihan adalah suatu usaha untuk mempercepat penyembuhan dari suatu injury atau penyakit tertentu yang telah merubah cara hidupnya yang normal. Terapi latihan merupakan salah satu usaha dalam  pengobatan fisioterapi yang didalam pelaksanaannya menggunakan latihan-latihan gerak baik secara aktif maupun pasif dengan sasaran orang yang sehat maupun sakit.
Tujuan terapi latihan:
  1. Memajukan aktifitas penderita dimana dan bilamana perlu.
  2. Memperbaiki otot-otot yang tidak efisien dan memperoleh kembali  jarak gerak sendi yang normal tanpa memperlambat usaha mencapai gerakan yang berfugsi dan efisien.
  3. Memajukan kemampuan penderita yang telah ada untuk dapat melakukan gerakan-gerakan yang berfungsi serta bertujuan, sehingga dapat mengembalikan ke aktifitas normal. Adapun tujuan dari terapi latihan adalah mencegah gangguan fungsi, mengembangkan, memperbaiki, mengembalikan dan memelihara:
  • Kekuatan Otot.
  • Daya tahan dan kebugaran Cardiovaskular.
  • Mobility dan fleksibility.
  • Stabilitas.
  • Rileksasi.
  • Koordinasi, keseimbangan dan kemampuan fungsional.

Adapun teknik terapi latihan dan gerakan yang dipergunakan dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Active movement: Gerak yang timbul karena kekuatan dari otot itu sendiri.

1) Assisted active movement Yaitu latihan dimana gerakan ynag terjadi akibat kontraksi otot yang bersangkutan dan mendapat bantuan dari luar. Efek dan kegunaan:
  • Memberikan stimulasi tentang gerakan yang disadari.
  • Memberikan stimulasi terhadap ingatan atau memory dengan cara pasien melihat gerakan yang besangkutan.
  • Mengembalikan kepercayaan.
  • Meningkatkan atau mempertahankan LGS.
  • Meningkatkan kekuatan otot.
2) Free active movement Yaitu latihan dimana gerakan yang terjadi akibat kontraksi otot yang bersangkutan tanpa pengaruh dari luar. Efek dan kegunaan:
  • Dapat menghasilkan rileksiasi Penurunan otot “Resiprox inhibisi“
  • Mobiliasi sendi Gerakan yang berulang-ulang dengan LGS yang penuh maka mobilisasi senti dapat teratasi.
  • Kekuatan daya tahan otot.
  • Koordinasi system neuromuscular.
  • Kepercayaan penderita.
  • System cardiorespirasi dan vascular.
3) Assisted-resisted active movement. Yaitu kombinasi/gabungan antara gerakan assisted dan resisted active movement. Resisted active movement Yaitu suatu latihan, otot yang bekerja dalam satu gerakan untuk melawan suatu tahanan. Factor-factor yang membentuk efisiensi otot :
  • Power atau kekuatan
  • Endurance atau daya tahan otot
  • Besarnya otot
  • Kecepatan kontraksi
  • Koordinasi gerakan
b. Passive movement: gerak yang timbul karena bantuan dari luar.

1) Relaxed passiv movement Efek dan kegunaan:
  • Mencegah proses perlengketan jaringan untuk memelihara kebebasan gerak sendi.
  • Mendidik kembali pola gerakan dengan stimulasi pada  propioceptor.
  • Memelihara ekstensibilitas otot dan mencegah pemendekan otot.
  • Memperbaiki atau memperlancar sirkulasi darah atau limfe.
  • ileksasi
2) Force passive movement Efek dan kegunaan:
  • Membebaskan perlengketan jaringan.
  • Mencegah pemendekan struktur sekitar sendi.
c. Manual passive movement Biasanya dilakukan oleh seorang dokter anastesi kemudian sendi digerakkan.


 

(Standar Pelayanan Medik) Kehamilan Ektopik

(Standar Pelayanan Medik) Kehamilan Ektopik
Definisi
          Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan gestasi di luar kavum uteri. Kehamilan ektopik merupakan istilah yang lebih luas daripada kehamilan ekstrauteri; karena istilah ini juga mencakup kehamilan di pars-interstisialis tuba, kehamilan di kornu, dan kehamilan di serviks.

Prinsip Dasar
          Pada wanita dalam masa reproduksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu difikirkan kehamilan ektopik terganggu. Gambaran klinik kehamilan ektopik yang terganggu amat beragam. Sekitar 10 – 29% pasien yang pernah mengalami kehamilan ektopik, mempunyai kemungkinan untuk terjadi lagi. Kira-kira sepertiga sampai separuh dari pasien dengan kehamilan ektopik mempunyai riwayat infeksi pelvis sebelumnya.

Diagnosis
  1. Anamnesis – nyeri abdomen, perdarahan pervaginam, terlambat haid.
  2. Pemeriksaan fisik – umum, abdomen, pelvis.
  3. Kehamilan ektopik belum terganggu dapat ditentukan dengan USG: akan tampak kantong gestasi bahkan janinnya.
  4. Tes tambahan – tes HCG, USG, kuldosentesis, kuretase endometrium, laparoskopi, kolpotomi/kolposkopi.
Manajemen
          Prinsip-prinsip umum penatalaksanaan:
  1. Rawat inap segera.
  2. Operasi segera setelah diagnosis dibuat.
  3. Penggantian darah sebagai indikasi untuk hipovolemik/anemia.
  4. Pada kehamilan ektopik belum terganggu, bila kantong gestasi tak lebih dari 3 cm, dapat dipertimbangkan terapi dengan MTX 50 mg/minggu yang dapat diulang 1 minggu kemudian bila janin masih hidup. Pasien dapat berobat jalan setelah mendapat informasi bahwa keberhasilan terapi medikamentosa hanya 85%. Bila ternyata tak terjadi ruptura, maka pasien dapat diminta kontrol tiap minggu untuk USG dan pemeriksaan HCG. Bila terjadi tanda nyeri/abdomen akut pasien harus segera di laparatomi.
(Standar Pelayanan Medik) Kehamilan Ektopik

(Standar Pelayanan Medik) Hiperemesis Dalam Kehamilan

(Standar Pelayanan Medik) Hiperemesis Dalam Kehamilan
 
Definisi
          Muntah yang berlebihan dalam kehamilan yang menyebabkan terjadinya:
  1. Ketonuria
  2. Penurunan Berat Badan > 5%
Prinsip Dasar
  • Muntah dan enek adalah bagian dari adaptasi/reaksi fisiologi kehamilan akibat adanya pengaruh hormon kehamilan seperti: Progesteron, hCG dll.
  • Hiperemesis dapat merupakan gejala penyakit-penyakit:
  1. Mola hidatidosa
  2. Hipertiroid
  3. Defisiensi vitamin B kompleks
  4. Stress berat
  • Setiap liter cairan lambung yang dimuntahkan mengandung 40 meq Kalium.
Diagnosis
  • Anamnesis
  • Pemeriksaan Fisik
  • Laboratorium:
  1. Urinalisa lengkap
  2. Gula darah
  3. Elektrolit
  4. Fungsi hati
  5. Fungsi ginjal
  • USG: menilai dan memastikan kehamilan.
Manajemen
  • Atasi dehidrasi dan ketosis
  1. Berikan Infus Dx 10% + B kompleks IV
  2. Lanjutkan dengan infus yang mempunyai komposisi kalori dan elektrolit yang memadai seperti: KaEN Mg 3, Trifuchsin dll.
  • Atasi defisit asam amino
  • Atasi defisit elektrolit
  • Balans cairan ketat hingga tidak dijumpai lagi ketosis dan defisit elektrolit
  • Berikan obat anti muntah: metchlorpropamid, largactil anti HT3
  • Berikan suport psikologis
  • Jika dijumpai keadaan patologis: atasi
  • Jika kehamilannya patologis (misal: Mola Hidatidosa) lakukan evakuasi
  • Nutrisi per oral diberikan bertahap dan jenis yang diberikan sesuai apa yang dikehendaki pasien (prinsip utama adalah pasien masih dapat makan) dengan porsi seringan mungkin dan baru ditingkatkan bila pasien lebih segar/enak.
  • Perhatikan pemasangan kateter infus untuk sering diberikan salep heparin karena cairan infus yang diberikan relatif pekat.
  • Infus dilepas bila kondisi pasien benar-benar telah segar dan dapat makan dengan porsi wajar (lebih baik lagi bila telah dibuktikan hasil laboratorium telah normal) dan obat peroral telah diberikan beberapa saat sebelum infus dilepas.
Prognosis
          Umumnya baik, namun dapat menjadi fatal bila terjadi deplesi elektrolit dan ketoasidosis yang tidak dikoreksi dengan tepat dan cepat.

(Standar Pelayanan Medik) Hiperemesis Dalam Kehamilan

(Standar Pelayanan Medik) Pemeliharaan Kehamilan


(Standar Pelayanan Medik) Pemeliharaan Kehamilan

Definisi
Suatu program berkesinambungan selama kehamilan, persalinan, kelahiran dan nifas yang terdiri atas edukasi, skreening, deteksi dini, pencegahan, pengobatan, rehabilitasi yang bertujuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman, sehingga Ibu mampu merawat bayi dengan baik.

Prinsip Dasar
  • Tabulasi faktor risiko
  • Skreening dan deteksi dini
  • Evaluasi pertumbuhan janin : deteksi pertumbuhan janin terhambat
  • Evaluasi dan rencana kelahiran
  • Evaluasi dan penilaian nifas
  • Konseling Nutrisi, Gerak Badan (Exercise), Medis, Genetik. Tambahan kalori yang dianjurkan rata rata 200 kal/hari.
  • Tidak ada bukti bahwa asuhan antenatal harus melibatkan dokter (Ib-A). Bila risiko rendah, jumlah asuhan 5 kali dianggap cukup menjamin luaran.
Diagnosis
  • Anamnesis
  • Pemeriksaan Fisik
  • USG : rutin pada 10-14 minggu, dan tambahan bila ada indikasi.
  • Laboratorium
Pendekatan dengan skor risiko dapat meramal efek samping namun tak jelas pengaruhnya dalam penurunan kematian ibu – perinatal (IV-C).

Manajemen
Suplemen asam folat pada periode perikonsepsi perlu diberikan pada semua perempuan untuk mengurangi risiko pada cacat bumbung syaraf (Ia-A).

Trimester I
  1. Pemastian kehamilan
  2. Pemastian intrauterin - hidup
  3. Pemastian kehamilan tunggal/multipel
  4. Pemastian usia kehamilan
  5. Pemastian faktor risiko : USG – NT pada 10-14 minggu dapat dipakai untuk identifikasi sindrom Down.
  6. Persiapan dan pemeliharaan payudara
  7. Skreening Thalasemia, Hepatitis B, Gol. Darah- Rhesus
Trimester II
  1. Skreening defek bumbung saraf (Neural Tube Defect)
  2. Skreening defek jantung
  3. Evaluasi pertumbuhan janin
  4. Evaluasi toleransi maternal
  5. Skreening servikovaginitis
  6. Skreening infeksi saluran kemih- (UTI)
  7. Skreening diabetes melitus (DM) pada 28-30 minggu
Trimester III
  1. Evaluasi pertumbuhan janin
  2. Evaluasi toleransi maternal
  3. Evaluasi rute persalinan/kelahiran
  4. Evaluasi fasilitas kelahiran/perawatan neonatal
Prognosis
Sangat variatif, namun pada risiko rendah prognosis baik.

(Standar Pelayanan Medik) Pemeliharaan Kehamilan

Batuk


Batuk merupakan refleks yang terangsang oleh iritasi paru-paru atau saluran pernapasan. Bila terdapat benda asing selain udara yang masuk atau merangsang saluran pernapasan, otomatis akan batuk untuk mengeluarkan atau menghilangkan benda tersebut. Batuk biasanya merupakan gejala infeksi saluran pernapasan atas (misalnya batuk-pilek, flu) dimana sekresi hidung dan dahak merangsang saluran pernapasan. Batuk juga merupakan cara untuk menjaga jalan pernapasan tetap bersih. Ada dua jenis batuk yaitu batuk berdahak dan batuk kering. Batuk berdahak adalah batuk yang disertai dengan keluarnya dahak
dari batang tenggorokan. Batuk kering adalah batuk yang tidak disertai keluarnya dahak.

1 .Gejala-gejala
  • Pengeluaran udara dari saluran pernapasan secara kuat, yang mungkin disertai dengan pengeluaran dahak.
  • Tenggorokan sakit dan gatal
2. Penyebab

Batuk dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain :
a. Infeksi
Produksi dahak yang sangat banyak karena infeksi saluran pernapasan. Misal flu, bronkhitis, dan penyakit yang cukup serius meskipun agak jarang yaitu pneumonia, TBC dan kanker paru-paru.
b. Alergi
  • Masuknya benda asing secara tidak sengaja ke dalam saluran pernapasan. Misal : debu, asap, cairan dan makanan.
  • Mengalirnya cairan hidung ke arah tenggorokan dan masuk ke saluran pernapasan. Misal : rinitis alergika, batuk pilek.
  • Penyempitan saluran pernapasan misal pada asma
3. Hal Yang Dapat Dilakukan
  • Minum banyak cairan (air atau sari buah) akan menolong membersihkan tenggorokan, jangan minum soda atau kopi.
  • Hentikan kebiasaan merokok
  • Hindari makanan yang merangsang tenggorokan (makanan dingin atau berminyak) dan udara malam.
  • Madu dan tablet hisap pelega tenggorokan dapat menolong meringankan iritasi tenggorokan dan dapat membantu mencegah batuk kalau tenggorokan anda kering atau pedih.
  • Hirup uap air panas (dari semangkuk air panas) untuk mencairkan sekresi hidung yang kental supaya mudah dikeluarkan. Dapat juga ditambahkan sesendok teh balsam/minyak atsiri untuk membuka sumbatan saluran pernapasan.
  • Minum obat batuk yang sesuai
  • Bila batuk lebih dari 3 hari belum sembuh segera ke dokter
  • Pada bayi dan balita bila batuk disertai napas cepat atau sesak harus segera dibawa ke dokter atau pelayanan kesehatan.
4. Obat Yang Dapat Digunakan

Obat batuk dibagi menjadi 2 yaitu ekspektoran (pengencer dahak) dan antitusif (penekan batuk)

A. Obat Batuk Berdahak (Ekspektoran)
1. Gliseril Guaiakolat
a. Kegunaan obat
Mengencerkan lendir saluran napas
b. Hal yang harus diperhatikan :
Hati-hati atau minta saran dokter untuk penggunaan bagi anak di
bawah 2 tahun dan ibu hamil.
c. Aturan pemakaian
• Dewasa : 1-2 tablet (100 -200 mg), setiap 6 jam atau 8 jam sekali
• Anak : 2-6 tahun : ½ tablet (50 mg) setiap 8 jam 6-12 tahun : ½ - 1 tablet (50-100 mg) setiap 8 jam

2. Bromheksin
a. Kegunaan obat
Mengencerkan lendir saluran napas.
b. Hal yang harus diperhatikan
Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita tukak lambung dan wanita hamil 3 bulan pertama.
c. Efek samping
Rasa mual, diare dan perut kembung ringan
d. Aturan pemakaian
Dewasa : 1 tablet (8 mg) diminum 3 x sehari (setiap 8 jam)
Anak : Di atas 10 tahun: 1 tablet (8 mg) diminum 3 kali sehari (setiap 8 jam)
5-10 tahun : 1/2 tablet (4 mg) diminum 2 kali sehari (setiap 8 jam)

3. Kombinasi Bromheksin dengan Gliseril Guaiakolat
a. Kegunaan obat
Mengencerkan lendir saluran napas
b. Hal yang harus diperhatikan :
• Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi anak di bawah 2 tahun.
• Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi penderita tukak lambung.
• Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi ibu hamil.
c. Efek samping
• Rasa mual, diare, kembung ringan.

4. Obat Batuk Hitam (OBH)
Dosis :
Dewasa : 1 sendok makan (15 ml) 4 x sehari (setiap 6 jam)
Anak : 1 sendok teh (5 ml) 4 x sehari (setiap 6 jam)
B. Obat Penekan Batuk (Antitusif)

1. Dekstrometorfan HBr (DMP HBr)
a. Kegunaan obat
Penekan batuk cukup kuat kecuali untuk batuk akut yang berat
b. Hal yang harus diperhatikan
• Hati-hati atau minta saran dokter untuk penderita hepatitis
• Jangan minum obat ini bersamaan obat penekan susunan syaraf pusat
• Tidak digunakan untuk menghambat keluarnya dahak
c. Efek samping
• Efek samping jarang terjadi. Efek samping yang dialami ringan seperti mual dan pusing
• Dosis terlalu besar dapat menimbulkan depresi pernapasan
d. Aturan pemakaian
• Dewasa : 10-20 mg setiap 8 jam
• Anak : 5-10 mg setiap 8 jam
• Bayi : 2,5-5 mg setiap 8 jam

2. Difenhidramin HCl
a. Kegunaan obat
Penekan batuk dan mempunyai efek antihistamin (antialergi)
b. Hal yang harus diperhatikan
- Karena menyebabkan kantuk, jangan mengoperasikan mesin selama meminum obat ini
- Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita asma, ibu hamil, ibu menyusui dan bayi/anak.
c. Efek Samping
Pengaruh pada kardiovaskular dan SSP seperti sedasi, sakit kepala, gangguan psikomotor, gangguan darah, gangguan saluran cerna, reaksi alergi, efek antimuskarinik seperti retensi urin, mulut kering, pandangan kabur dan gangguan saluran cerna, palpitasi dan aritmia, hipotensi, reaksi hipersensitivitas, ruam kulit, reaksi fotosensitivitas, efek ekstrapiramidal, bingung, depresi, gangguan tidur, tremor, konvulsi, berkeringat dingin, mialgia, paraestesia, kelainan darah, disfungsi hepar, dan rambut rontok.
d. Aturan Pemakaian
• Dewasa : 1-2 kapsul (25-50 mg) setiap 8 jam
• Anak : ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam

Penatalaksanaan Massage dan Stretcing pada Nyeri Otot Erector Spine Akibat Spondylosis Lumbal


Penatalaksanaan Massage dan Stretcing pada Nyeri Otot Erector Spine Akibat Spondylosis Lumbal

BAB I
PENDAHULUAN

  
A. Latar Belakang Masalah

          Daerah lumbal terdiri atas L1 sampai L5 dan L5 – S1 yang paling besar menerima beban atau berat tubuh sehingga daerah lumbal menerima gaya dan stress mekanikal paling besar sepanjang vertebra. Menurut The Healthy Back Institute, daerah lumbal merupakan daerah vertebra yang sangat peka terhadap terjadinya nyeri pinggang karena daerah lumbal paling besar menerima beban saat tubuh bergerak dan saat menumpuh berat badan. Disamping itu, gerakan membawa atau mengangkat objek yang sangat berat biasanya dapat menyebabkan terjadinya cidera pada lumbar spine.

          Nyeri pinggang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Kondisi-kondisi yang umumnya menyebabkan nyeri pinggang adalah strain lumbar, iritasi saraf, radiculopathy lumbar, gangguan pada tulang (stenosis spinal, spondylolisthesis), kondisi-kondisi sendi dan tulang (spondylosis), dan kondisi-kondisi tulang kongenital (spina bifida dan skoliosis) . Diantara kondisi tersebut, telah diobservasi bahwa sekitar 90% pasien nyeri pinggang mengalami spondylosis lumbar. Sedangkan menurut Kelly Redden, nyeri pinggang dibagi atas 2 bagian yaitu mekanikal nyeri pinggang dan non-mekanikal nyeri pinggang.Mekanikal nyeri pinggang terdiri dari lumbar strain/sprain, spondylosis lumbal, piriformis syndrome, herniasi diskus, spinal stenosis, fraktur kompresi osteoporotik, spondylolisthesis, fraktur traumatik, dan penyakit kongenital (skoliosis). Diantara kondisi tersebut, spondylosis lumbal menduduki peringkat kedua dengan persentase 10% dari mekanikal nyeri pinggang sedangkan lumbar strain/sprain memiliki persentase terbanyak yaitu 70% dari mekanikal nyeri pinggang.

          Spondylosis lumbal merupakan penyakit degeneratif pada corpus vertebra atau diskus intervertebralis. Kondisi ini lebih banyak menyerang pada wanita. Faktor utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan spondylosis lumbal adalah usia, obesitas, duduk dalam waktu yang lama dan kebiasaan postur yang jelek. Pada faktor usia menunjukkan bahwa kondisi ini banyak dialami oleh orang yang berusia 40 tahun keatas. Faktor obesitas juga berperan dalam menyebabkan perkembangan spondylosis lumbar.

          Spondylosis lumbal merupakan kelompok kondisi Osteoarthritis yang menyebabkan perubahan degeneratif pada intervertebral joint dan apophyseal joint (facet joint). Kondisi ini terjadi pada usia 30 – 45 tahun namun paling banyak terjadi pada usia 45 tahun dan lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki. Sedangkan faktor resiko terjadinya spondylosis lumbar adalah faktor kebiasaan postur yang jelek, stress mekanikal dalam aktivitas pekerjaan, dan tipe tubuh.Perubahan degeneratif pada lumbar dapat bersifat asimptomatik (tanpa gejala) dan simptomatik (muncul gejala/keluhan). Gejala yang sering muncul adalah nyeri pinggang, spasme otot, dan keterbatasan gerak kesegala arah.

B. Rumusan Masalah
Apakah dengan massage dan streaching dapat mengurangi nyeri otot erector spine pada kondisi spondylosis lumbalis ?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui manfaat massage dan streaching dapat mengurangi nyeri pada otot erector spine akibat spondylosis lumbalis.
 
BAB II
TINJAUN KASUS
A. DESKRIPSI KASUS
1. Defenisi

Spondilo berasal dari bahasa Yunani yang berarti tulang belakang. Spondilosis lumbalis dapat diartikan perubahan pada sendi tulang belakang dengan ciri khas bertambahnya degenerasi discus intervertebralis yang diikuti perubahan pada tulang dan jaringan lunak, atau dapat berarti pertumbuhan berlebihan dari tulang (osteofit), yang terutama terletak di aspek anterior, lateral, dan kadang-kadang posterior dari tepi superior dan inferiorvertebra centralis (corpus). Secara singkat, sponsylosis adalah kondisi dimana telah terjadi degenerasi pada  sendi intervertebral yaitu antara diskus dan corpus vertebra.

2. AnatomiFungsional
a. Tulang
Vertebra lumbal  terletak diregio punggung bawah antara region thorak dan sacrum. Vertebra lumbal  ditandai dengan corpus dan arcus yang kuat. Vertebra lumbal  berjumlah 5, keatas bersendi dengan thorakal 12 dan kebawah bersendi dengan tulang sacral. Vertebra dibentuk oleh corpus yang berfungsi sebagai penyangga berat badan. Processus spinosus merupakan bagian dari vertebra bagian posterior yang bila diraba terasa seperti tonjolan, terutama berfungsi sebagai tempat melekatnya otot – otot punggung procesus transversus terletak pada kedua sisi corpus vertebra dan sedikit kearah atas dan bawah dari procesus transversus terdapat  facies articularis, vertebra dengan vertebra yang lainya. Bentuk permukaan faset joint akan mencegah atau menbatasi gerakan yang berlawanan arah dengan permukaan facet  joint . Pada daerah lumbal,  facet  terletak pada bidang sagital memungkinkan gerak fleksi dan extensi kerah anterior dan posterior


b. Otot
Otot-otot pada lumbal berfungsi sebagai stabilitasi aktif, otot-otot ini bibagi menjadi tiga bagian, antara lain:
a. Fleksor lumbalis, antara lain :
  • M. Rektus abdominis
  • M. Obligus internus
  • M. Obligus eksternus
  • M. Psoas minor
  • M. Psoas mayor

b. ekstensor lumbaris antara lain :
  • M. Iliocostalis lumborum
  • M. Longisimus dorsi
  • M. Protator longus
c. latero fleksor lumbalis antara lain :
  • M. Psoas mayor
  • M. Quadratus lumborum

c. Pergerakkan

          Biomekanik columna vertebralis region lumbal faset sendinya memiliki arah sagital dan medial sehingga memungkinkan gerakan fleksi, ekstensi, lateral fleksi, dan rotasi.

a) Fleksi
          Gerakan fleksi lumbal mempunyai bidang gerak sagital axis gerakannya frontal.Gerakan fleksi lumbal yang sangat luas dibatasi oleh ketegangan, dari otot ekstensor dan juga adanya ligament longitudinal posterior, supspinalis sdan ligament interspinal. Range of Motion yang dicapai 850

b) Ekstensi
          Mempunyai gerakan sagittal pada sumbu transversal gerakan ekstensi dilakukan otot multidifus, otot interspinalis, otot semispinalis, otot rotatorius, otot illiocostalis bekerja secara simetris, gerakan ini dibatasi oleh group fleksor ligament longitudinal anterior.Range of Motion yang dicapai 30o.Gerakan dimulai dari posisi berdiri dan kemudian menekuk punggung kebelakang.

c) Lateral fleksi
          Lateral fleksi pada regio lumbal bukanlah gerakan yang murni, karena ada banyak komponen yang mendukung gerakan ini terutama komponen yang memunculkan gerakan rotasi. Terletak pada bidang gerak frontal dengan axis pada bidang sagital.Range of Motion yang dicapai 30o.

d) Rotasi
          Bidang gerakan horizontal yang mempunyai axis pada bidang vertical. Range of Motion yang dicapai 45o.
 
d. Persarafan

a) Nervus lumbalis
          Nervus lumbalis terdiri dari lima pasang, yang berasal dari segmen medulla spinalis yang atas dua bagian, yaitu bagian primer anterior dan bagian primer posterior. pada bagian primer anterior akan bergabung dengan bagian primer sacralis dan cocygeus dan membentuk fleksus lumbosacral. Pada bagian primer posterior akan bercabang menjadi dua, cabang medial akan mempersarafi otot-otot spinamultidifus dan cabang ke lateral akan mempersarafi otot cataneus.

b) Nervus sacralis
          Nervus ini terdiri atas lima pasang, yang berasal dari segmen medulla spinalis yang letaknya berlawanan dengan corpus vertebra thoracalis 12 dan lumbal 1.
 
3. Patologi

          Patologi adalah ilmu yang mempelajari sebab dan perjalanan dari suatu penyakit, serta perubahan anatomi maupun fungsional akibat penyakit tersebut.

A. Etiologi
          Spondylosis lumbal muncul karena proses penuaan atau perubahan degeneratif.Spondylosis lumbal banyak pada usia 30 – 45 tahun dan paling banyak di atasusia 45tahun. Kondisi ini lebih banyak menyerang pada wanita dari pada laki-laki.Faktor-faktor resiko yang dapat menyebabkan spondylosis lumbal adalah :
  1. Kebiasaan postur yang jelek
  2. Stress mekanikal akibat pekerjaan seperti aktivitas pekerjaan yang melibatkan gerakan mengangkat, twisting dan membawa / memindahkan barang.
  3. Tipe tubuh Ada beberapa faktor yang memudahkan terjadinya progresi degenerasi pada vertebra Lumbal yaitu:
  • Faktor usia ,beberapa penelitian pada osteoarthritis telah menjelaskan bahwa proses penuaan merupakan factor resiko yang sangat kuat untuk degenerasi tulang khususnya pada tulang vertebra. Suatu penelitian otopsi menunjukkan bahwa spondylitis deformans atau spondylosis meningkat secara linear sekitar 0% - 72% antara usia 39 – 70 tahun. Begitu pula, degenerasi diskus terjadi sekitar 16% pada usia 20 tahun dan sekitar 98% pada usia 70 tahun.
  • Stress akibat aktivitas dan pekerjaan, degenerasi diskus juga berkaitan dengan aktivitas-aktivitas tertentu. Penelitian retrospektif menunjukkan bahwa insiden trauma pada lumbal, indeks massa tubuh, beban pada lumbal setiap hari (twisting, mengangkat, membungkuk, postur jelek yang terus menerus), dan vibrasi seluruh tubuh (seperti berkendaraan), semuanya merupakan faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan spondylosis dan keparahan spondylosis.
  • Peran herediter, Faktor genetic mungkin mempengaruhi formasi osteofit dan degenerasi diskus. Penelitian Spector and Mac Grego rmenjelaskan bahwa 50% variabilitas yang ditemukan pada osteoarthritis berkaitan dengan factor herediter. Kedua penelitian tersebut telah mengevaluasi progresi dari perubahan degeneratif yang menunjukkan bahwa sekitar ½ (47 – 66%) spondylosis berkaitan dengan factor genetic dan lingkungan, sedangkan hanya 2 – 10% berkaitan dengan beban fisik dan resistance training.
  • Adaptasi fungsional, Penelitian Humzah and Soames menjelaskan bahwa perubahan degenerative pada diskus berkaitan dengan beban mekanikal dan kinematik vertebra. Osteofit mungkin terbentuk dalam proses degenerasi dan kerusakan cartilaginous mungkin terjadi tanpa pertumbuhan osteofit. Osteofit dapat terbentuk akibat adanya adaptasi fungsional terhadap instabilitas atau perubahan tuntutan spada vertebra lumbal.
B. Perubahan patologi
          Perubahan patologi yang terjadi pada diskus intervertebralis antara lain:
  1. Annulus fibrosus  menjadi kasar, collagen fiber cenderung melonggar dan muncul retak pada berbagai sisi.
  2. Nucleus pulposus kehilangan cairan
  3. Tinggi diskus berkurang
  4. Perubahan ini terjadi sebagai bagian dari proses degenerasi pada diskus dan dapat hadir tanpa menyebabkan adanya tanda-tanda dan gejala.
          Sedangkan pada corpus vertebra, terjadi perubahan patologis berupa adanya lipping yang disebabkan oleh adanya perubahan mekanisme diskus yang menghasilkan penarikan dari periosteum dari annulus fibrosus.Dapat terjadi dekalsifikasi pada corpus yang dapat menjadi factor predis posisi terjadinya crush fracture.

          Pada ligamentttum intervertebralis dapat menjadi memendek dan menebal terutama pada daerah yang sangat mengalami perubahan.Pada selaput meningeal, durameter dari spinal cord membentuk suatu selongsong mengelilingi akar saraf dan ini menimbulkan inflames karena jarak diskus membatasi canalis intervertebralis.

          Terjadi perubahan patologis pada sendi apophysial yang terkait dengan perubahan pada osteoarthritis.Osteofitter bentuk pada margin permukaan articular dan bersama-sama dengan penebalan kapsular, dapat menyebabkan penekanan pada akar saraf dan mengurangi lumen pada foramen intervertebralis.

C. Tanda dan gejala
          Tanda tanda yang biasa dan gejala termasuk rasa sakit (nyeri),hilangnya kemampuan untuk bergerak karna terbatas rasa sakit (di sebut kemampuan fungsional) dan berkurangnya elastisitas jaringan (otot).

D. Komplikasi
          Skoliosis merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan pada penderita nyeri punggung bawah karena Spondilosis.Hal ini terjadi karena pasien selalu memposisikan tubuhnya kearah yang lebih nyaman tanpa mempedulikan sikap tubuh normal.Hal ini didukung oleh ketegangan otot pada sisi vertebra yang sakit.

E. Prognosis gerak dan fungsi
          Pada kasus ini mempunyai mempunyai prognosis yang baik.Prognosa dapat berupa qua ad sanam sedang, qua ad vitam baik, qua ad cosmetic baik dan qua ad fungsional baik.

 
B. TEKNOLOGI INTERVENSI
1. Massage

a. Defenisi
          Massage adalah suatu cara penyembuhan yang menggunakan gerakantangan atau alat terhadap jarinagn tubuh yang lunak.Gerakan tangan dalam massage di sebut MANIPULASI

b. Tujuan Massage
          Pada dasarnya massage bertujuan memperbaiki sikulasi membantu absorpsi (penyerapan),sekresi (pengeluaran),serta memperlancar distribusi energi dan nutrisi ke dalam jaringan, selain itu massage dapat memperbaiki tonus otot dan fungsi syaraf.

c. Pengaruh Massage
1) Efek fisiologis
2) Pengurangan nyeri
          Ketegangan dan produk sisa metabolisme pada otot dapat menimbulkan rasa nyeri. Massage membantu mengurangini dalam banyak cara termasuk tubuh melepaskan endorfin.
3) Relaksasi
          Relaksasi otot melalui panas yang dihasilkan,sirkulasi dan peregangan.Mechanoreceptor memberikan sensasi sentuhan tekanan pemanjangan dan penghangatan jaringan yang dirangsang yang menyebabkan reflex relaksasi.
4) Teknik Dasar Massage
  1. Efflurage
  2. Petrisage
  3. Kneading
  4. Friction
  5. Vibrasi
  6. Tapotement
5) Slipping. Fungsinya peningkatan tonus otot.
 
2. Stretching
          Stretching adalah melakukan penguluran pada otot-otot ditujukan agar otot tidak mengalami kaget karena adanya gerakan-gerakan mendadak dan cepat saat melakukan aktivitas latihan.Selain itu stretching juga dapat menghindari resiko cidera saat melakukan aktivitas olahraga.

a. Latihan peregangan cobra.
          Telungkup di lantai dengan telapak tangan menempel di lantai.Mulai mendorong tangan anda sehingga bahu anda terangkat dan posisi anda menjadi seperti posisi kobra.Lengkungkan tubuh anda sejauh mungkin.Setiap repetisi harus berlangsung antara 5-30 detik.

b. Latihan peregangan super cobra.
          Mulai dengan posisi akhir seperti cobra kemudian angkat pinggul anda sehingga membentuk posisi V terbalik.Ketika anda melakukan ini, tundukan kepala hingga dagu menempel ke leher/dada.Kembali ke posisi awal.Setiap repetisi dilakukan antara 10-20 detik.

c. Latihan peregangan cat stretch.
          Telapak tangan dan lutut menempel di lantai.Tarik napas saat anda melengkungkan punggung kebawah hingga kepala anda terangkat.Lepaskan napas ketika anda menundukkan kepala dan melengkungkan punggung keatas.Setiap repetis harus berlangsung antara 3-8 detik.

d. Latihan peregangan basic leg stretch
          Posisi duduk dengan kaki dibuka selebar mungkin.Masing-masing tangan anda menyentuh ujung kaki.Coba pertahankan kaki anda tetap sslurus mungkin.Lalu pindahkan gerakan menyentuh ujung kaki satunya.Usahakan tulang punggung anda tetap lurus dan gerakan perpindahan dari kiri ke kanan atau sebaliknya adalah dari pinggang.Peregangan ini bekerja untuk tulang punggung dan kaki.Setiap repetisi harus belangsung 6-15 detik.

e. Latihan the bridge.
          Berbaring dengan lutut tertekuk dan telapak kaki menempel dilantai sedekat mungkin dengan pantat.Raih pergelangan kaki dan tetap pegang sementara anda menaikan panggul anda dan melengkungkan punggung anda, angkat perut anda setinggi mungkin, Kembali lagi taurun. Jika anda tidak bias memegang terus pergelangan kaki anda , jaga tangan anda disamping dan gunakan untuk mendorong badan anda keatas saat gerakan naik. Setiap repetisi harus dilakukan 3-10 detik. Peregangan ini mungkin berat pertamanya,tapi tetap persisten walaupun anda tidak bias melakukannya dengan penuh petamanya.

f. Latihan the table
          Duduk di lantai dengan kaki lurus.Dengan posisi tegak lurus, letakkan telapak tangan anda dilantai sebelah pantat, Kemudian tempelkan kepala anda hingga dagu menempel ke dada.Kemudian angkat kepala anda hingga melihat keatas sejauh mungkin.Ketika melakukan itu naikkan juga badan anda sewhingga lutut tertekuk sementara tangan pada posisi awal dan lurus.Punggung dan kaki bagian atas anda harus membentuk garis lurus horizontal dengan lantai. Tangan dan kaki bawah anda akan tegak lurus denan lantai. Dengan kata lain, seperti meja. Ini adalah salah satu peregangan yang berat juga, Jika anda tidak dapat melakukannya dengan bebar, Coba lakukan sebaik mungkin, perlahan anda akan bias melakukannya dengan mudah. Repetisi harus dilakukan 8-20 detik.

g. Latihan peregangan the bow down
          Berdiri dengan tangan pada pinggang. Sementara tangan menempel dipinggang, membungkuklah ke depan sejauh mungkin. Jangan menekuk lutut dan jangan sampai dagu menempel ke dada. Setiap repetisi harus dilakukan 4-8 detik

h. Latihan peregangan the yaw
          Berdiri dengan tangan saling berpegangan dibelakang kepala, lengkungkan badan ke belakang sejauh mungkin.Setiap repetisi harus dilakukan 5-15 detik.

i. Latihan peregangan the super stretch.
          Berdiri lurus kemudian tangan dinaikkan ke atas setinggi mungkin.Rasakan pergangan di punggung bawah anda. Super stretch dapat dilakukan dengan berdiri ataupun berbaring. Setiap repetisi harus dilakukan 4-7 detik.

j. Latihan peregangan Hands on the Head Bow Down
          Berdiri dengan kedua tangan dibelakang leher, membungkuk ke depan sejauh mungkin. Tempelkan dagu dan jangan menekuk lutut.Setiap repetisi harus dilakukan 4-8 detik.
 
C. Edukasi
  1. Jangan berdiri terlalu lama tanpa diselingi gerakan seperti jongkok. 
  2. Jangan membawa beban yang berat. 
  3. Jangan duduk terlalu lama. 
  4. Jangan emakai sepatu hak tinggi. 
  5. Jangan menulis sambil membungkuk terlalu lama. 
  6. Tidur tanpa menggunakan alas di permukaan yang keras atau menggunakan kasur yang terlalu empuk.
  7. Posisikan kepala dititik tertinggi, bahu ditaruh sedikit kebelakang. 
  8. Duduk tegak 90 derajat. 
  9. Gunakanlah sepatu yang nyaman.

Penatalaksanaan Massage dan Stretcing pada Nyeri Otot Erector Spine Akibat Spondylosis Lumbal

Penatalaksanaan Ultra Sound dan Contract Rileks Streching Pada Penderita Spondyloartrosis Cervical


BAB I
PENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang Masalah

 

          Vertebra atau tulang belakang merupakan tulang yang sangat penting bagi manusia. srukturnya terdiri dari ruas-ruas tulang yang tersusun secara vertical sehingga membentuk postur tubuh manusia menjadi tegak. ruas-ruas itu terdiri dari tujuh ruas tulang cervical, dua belas ruas tulang thoracal, lima tulang lumbal, sacrum dan koksigeus, selain itu tulang vertebra merupakan tempat keluarnya medulla spinalis dan roots nerve. saraf-saraf ini kemudian menjalar keseluruh tubuh sebagai media untuk menghantarkan impuls untuk mengeksekusi perintah tersebut. medulla spinalis dan akar saraf merupakan bagian yang sensitive pada tulang belakang. sehingga apa bila ada kerusakan saraf akan terjadi gangguan – gangguan yang sesuai dengan lesi saraf nya, baik itu pada tingkat dermatom ataupun miotom. Kerusakan ini bisa muncul karena berbagai penyebab, seperti trauma, postur yang salah patologis atau degenerasi.

          Lesi pada ruas-ruas belakang membawa dampak yang berbeda, tergantung pada tingkatan ruas mana yang terkena. Salah satu contohnya gangguan brachialgia karena penjepitan atau penekanan pada saraf-saraf yang keluar melalui ruas tulang cervical. Gangguan ini akan berdampak disepanjang perjalanan saraf yang terkena, dalam kasus ini yang terkena adalah bagian lengan. Gejalanya dapat terasa mulai dari shoulder sampai kejari-jari tangan.

          Spondyloartrosis adalah kumpulan dari gejala-gejala yang timbul akibat adanya gangguan di daerah leher yang menyebabkan tekanan atau iritasi rangsangan pada akar saraf cervical.
Denagn latar belakang diatas maka fisioterapi sebagai salah satu tim pelayanan medis yang berperan dalam mengatasi masalah-masalah atau gangguan yang timbul pada penderita spondyloartrosis cervical dengan pemberian Ultra Sound dan teknik kontra rileks stretching. Untuk mengurangi nyeri sehigga pasien diharapkan dapat kembali menjalani aktifitas semaksimal mungkin.

B. Rumusan Masalah
 
  1. Apakah Ultra Sound dan Contract Rileks Streching dapat mengurangi rasa nyeri pada penderita spondyloartrosis cervical ?
  2. Apakah Ultra Sound dan Contract Rileks Streching dapat meningkatkan luas gerak sendi pada penderita spondyloartosis cervical ?
C.  Tujuan penulisan
 
  1. Mengetahui manfaat Ultra Sound dan Contract Rileks Streching dalam mengurangi rasa nyeri pada penderita spondyloartrosis cervical.
  2. Mengetahui manfaat Ultra Sound dan Contract Rileks Streching dalam meningkatkan luas gerak sendi pada penderita spondyloartrosis cervical.
 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi kasus

1. Definisi
          Spondyloartrosis cervical adalah kondisi dimana terjadi perubahan degenerative antara sendi intervertebralis antara corpus dan discus. Spondyloartrosis merupakan bagian dari osteoarthritis yang juga dapat menghasilkan perubahan degenerative pada sendi-sendi synovial sehingga dapat terjadi pada sendi-sendi apophi seal tulang belakang. secara klinis kedua perubahan degenerative tersebut terjadi secara bersamaan.

          Spondyloartrosis cervical merupakan suatu kondisi proses degenerasi pada discus intervertebralis dan jaringan pengikat persendian antara ruas-ruas tulang belakang.

2. Anatomi Dan Fungsional
a. Tulang
          Columna vertebralis merupakan poros tulang rangka tubuh yang memungkinkan untuk bergerak. Terdapat 33 columna vertebralis, meliputi 7 columna vertebralis cervical, 12 columna vertebralis thoracal, 5 columna vertebralis lumbal, 5 columna vertebralis sacral, dan 4 columna vertebralis coccyx. vertebra sacral dan coccygeal menyatu menjadi sacrum-coccyx pada umur 20-25 tahun. columna vertebralis juga membentuk saluran untuk spinal cord. Spinal cord merupakan sruktur yang sangat sensitive dan penting karena menghubungkan otak dan system saraf ferifer.

b. Tulang Vertebra
          Tulang vertebra mempunyai suatu bentuk tertentu tapi bukan merupakan suatu tiang yang lurus melainkan membentuk suatu lengkungan yang cembung kebelakang dan cembung kedepan pada bidang sagital. Yaitu kiyposois thorakalis dan sacralis sertalordosis cervical dan lumbal. selain itu juga ada scoliosis yang melengkung kesamping dalam bidang frontal. Columna vertebralis membentuk sruktur dasar batang badan yang terderi dari 32-33 ruas vertebra dan terbagi menjadui : 7 vertebra cervicalis, 12 vertebra thorakalis, 5 vertebra lumbalis, 5 vertebra sacralis, 3-4 coccygealis.

c. Tulang Cervical
          Cervical spine terdiri dari atas 7 vertebra dan 8 saraf cranial. Fungsi utama leher adalah menghubungkan leher dengan tubuh stabilitas kepala tergantung 7 buah vertebra cervical. Hubungan antara vertebra cervical melalui suatu susunan persendian yang cukup rumit. Gerakan dimungkinkan karena adanya berbagai persendian. Facet joint yang ada di posterior memegang peranan penting.
spondyloartrosis cervical

Gambar 3.2 Tulang Punggung. Columna Vetebralis
 

persendian tersebut terdiri dari :
1) Atlanto ocsipitalis ( C0-C1)
          Merupakan sendi synovial jenis ovoid yang di bentuk inferior artikula face atlas. Gerak utama fleksi-ekstensi sehingga dikenal sebagai yes joint.
2) Atlanto axialis (C1-C2)
          Merupakan sendi synovial jenis sendi putar dibentuk oleh atlas arcdengan dens dimana gerak utamanya rotasi kiri kanan, sehingga dikenal sebagai no joint.
3) Intervertebral joint(C2-C7)
          Gerakan ke segala arah, dengan gerakan dominan seperti fleksi ekstensi dan lateral fleksi.

1. Ligamen
          Ligamen merupakan jaringan ikat yang berbentuk seperti tali atau pita yang berfungsi sebagai penghubung tulang-tulang dan menstabilkan sendi. Ligament yang memperkuat cervical, antara lain:

  • Ligamentum longitudinal anterior dimulai dari tulang occipital atau tuberkulum anterius atlas berjalan turun kebawah anterior terhadap permukaan corpus vertebra sampai kesacrum. ligagamen tersebut semakin melebar kekaudal dan seslalu terikat erat daengan corpus vertebra, tetapi tidak pada discus intervertebralis. Ligament longitudinal anterior yang kuat menghubungkan bagian depan corpus.
  • Ligamen longitudinal posterior berasal dari tulang occipital dabn berjalan kebawah sepanjang permukaan belakang corpus vertebra dan berakhir di sacrum. Ligament ini terikat erat pada discusintervertebralis dan merupakan ligament yang lebih lemah tapi sensitive terutama terhadap rangsang nyeri dan berfungsi untuk membatasi gerakan utama pada gerakan fleksi-ekstensi dan melidungi discus interverteralis.
  • Ligamen flavum merupakan ligament vertebralis yang paling lentur terbentang luas secara segmental antara arcus vertebra. ligamentum flanvum membatasi sebelah medial dan sisi dorsal foramen intervertebralis. Walaupun dalam keadaan istirahat ini teteap tegang.sewaktu fleksi columna vertebra ligament ini menjadi lebih terenggang dan membantu columna vertebralis kembali dalam sikap tegak.
  • Ligamen nuchea terbentang dari crista occypitalis externasampai processus spinosus vertebra cervicali. pada posisi sagital memungkinkan tempat melekatnya otot-otot dan terus kebawah pada daerah cervical sebagai ligamentum interspinal dan ligament supraspina.
  • Ligamentum intertranversum dan interspinal merupakan jaringan ikat yang pendek diantara processus taranversus.
  • Ligamen interspinal merupakan ligament vertebralis yang kuat dan dimulai processus spinosus verterbra cervicalis ketujuh dan terbentang sampai sejauh sacrum dan menhghubungkan vertebra dan sacrum
2. Corpus
Corpus dapat dibedakan beberapa daratan yaitu :
  • Facies ventralis convek dari arah kanan ke kiri, akan tetapi concave dari cranial dan caudal
  • Facies dorsalnya concave
  • Diantara facies superior dan facies inferior terdapat bangunan seperti tulang rawan yang disebut discus intervertebralis

3. Arcus
          Arcus merupakan lengkungan simetris disebelah kanan dan kiri. Arcus berpangkal pada arcus untuk menuju kearah dorsal. Pangkalnya disebut radiks arcus vertebralis.
Disebelah belakang kedua lengkung bertemu dilinea mediana, untuk melanjutkan diri sebagai tonjolan seperti duri yang disebut prosesus spinosus.

Pada batas antara radiks dan arcus terdapat dua pasang tonjolan yang yang terletak ventrikal yaitu :
a) sepasang terdapat disebelah cranial disebut : processus artikularis superior, yang mempunyai daratan sendi yang disebut facies articularis superior
b) sepasang terdapat di daratan caudal disebut : processus articularis inferior, dengan daratan sendinya yang disebut facies articularis inferior pada batas daratan radiks dan arcus masih ada penonjolan meruncing kearah lateral yang disebut processus tranversus.

Terdapat dua macam incisura yang ada disebelah bawah yaitu :

  1. Di sebelah atas : incisura superior
  2. Di sebelah bawah : incisura inferior

          Incisura tersebut bersama-sama membentuk suatu lubang yaitu disebut : Foramen intervertebrae. Yang dilalui oleh saraf-saraf yang berpangkal pada medulla spinalis.

4. Foramen
          Foramen merupakan suatu lubang yang dibentuk oleh arcus vertebra. Vertebra membentuk suatu columna vertebralis, dan dengan sendirinya membentuk suatu canalis yang disebut dengan canalis vertebrae. Di dalam columna vertebra di tempati oleh medulla spinalis (sumsum tulang belakang).

5. Persarafan
          Delapan saraf cervical berasal dari medulla spinalis segmen servical, 7 saraf cervical keluar dari medulla spinalis diatas vertebra yang bersangkutan, namun saraf cervical ke 8 keluar dari medulla spinalis di bawah VC7 dan diatas Vth1 serta costa pertama, saraf-saraf ini memberi layanan saraf sensorik pada tubuh bagian atas dan bagian eksremitas superior berdasarkan dermatom.

6. Discus vertebra cervical
          Discus intervertebralis adalah lempengan lempengan kartilago yang berbentuk suatu bantalan diantara dua tulang belakang. Material yang keras dari fibrosa di gabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola di bagian tengah discus dinamakan nucleus pulposus. Discus pada vertebra cervical lebih kecil disbanding thoracal dan lumbal terdiri dari nucleus pulposus,annulus fibrosus, dan 2 cartilaginous end plate. lebih tertutup tulang bila di bandingkan dengan vertebra yang lain.

7. Peredaran darah
          Sistem peredaran darah yang merupakan satu jalan untuk memberikan nutrisi pada jaringan-jaringan yang terdapat disekitar tubuh untuk daerah bahu, system peredaran darah arteri dan vena yaitiu :

a. Sistem peredaran darah arteri
          Peredaran darah pada leher dimulai dari arcus aorta lalu bercabang di truncus brachiophalikus menjadi carotis comunis dan subclavi kemudian bercabang menjadi arteri subclavia kemudian subclavia bercabang menjadi arteri vertebralis dan arteri axillaris dari arteri vertebralis darah masuk ke arteri vertebralis.

8. System peredaran darah vena
Sistem peredaran darah vena dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Vena supervikal
          Vena ini yang behubung dengan daerah shoulder yaitu bagian vena chapalica yang berasal dari dorsal processus stiloideus radii, berjalan ditepi lengan bawah dan setelah sampai di lengan atas berjalan diluar fascia brachii yang kira-kira tepat pada caput brevis dan caput longum otot bicep brachi. Setelah sampai dikaudal otot pectoralis mayor, berjalan di dalam sulcus deltoid pektoralis kemudian berjalan dan bermuara dalam vena axillaris.

b. Vena provundus
          Vena provundus ini berada daerah bahu mengikuti arteri-arteri sesuai dengan percabangan arteri yang ada. Adapun percabangan nya sebagai berikut :

  1. Vena axillaris
              Berjalan bersama arteri axillaris merupakan vena terbesar pada vena yang melewati fossa axillaris, setelah sampai pada margo lateralis pada costa yang pertama yang di sebut vena subclavia.
  2. Vena bronchialis
              Vena ini mengikuti arteri brachialis yang kemudian menggabungkan diri pada setiap cabang-cabang yang menyilang dari otot teres mayor atau otot scapularis, dibagian medial vena ini mengeluarkan vena brachialis lateral vena axillaris.

3. Patologi
          Patologi merupakan ilmu yang mempelajari sebab-sebab dari suatu penyakit. Dimana patologi mencakup etiologi, tanda dan gejala, komplikasi, prognosis, gerak dan fungsi, perubahan patologi.

4. Etiologi
          Pada kasus spondyloartrosis cervical terjadi perubahan discus intervertebralis, pembentukan osteofit paravertebra dan facet serta perubahan arcus laminalis posterior. Osteofit yang terbentuk seringkali menonjol kedalam foramen intervertebra dan mengadakan iritasi atau menekan akar saraf. Ekstensi cervical dapat meningkatkan intensitas rasa nyeri. perubahan-perubahan ini sering tampak antara VC5-Th1, menyebabkan timbulnya gejala kaku (stiffness) pada cervical spine bawah dan tidak jarang menimbulkan hipermobilitas kompensatorik cervical spine atas.

          Penyebab lain yang menimbulkan spondyloartrosis cervical adalah sikap tubuh atau postur tubuh yang buruk, mengangkat beban yang tidak tepat dan terlalu berat, strees dan ketegangan yang disebabkan dari duduk untuk jangka waktu yang lama dan kurangnya berolahraga juga dapat penyebab timbulnya penyakit ini.

5. Perubahan Patologi
          Degenerasi yang terjadi pada discus menyebabkan fungsi discus sebagai shock ab sorber, yang kemudian akan menimbul osteofit yang menyebabkan penekanan pada radiks, medulla spinalis dan ligament yang pada akhirnya timbul nyeri yang menyebabkan penurunan mobilitas, toleransi jaringan terhadap suatu regangan yang diterima menurun sehigga tekanan selanjutnya akan oleh facet joint.degenerasi pada facet joint akan diikuti oleh timbulnya penebalan sub shondral yang kemudiamn terjadi osteofit yang dapat menyebabkan terjadinya penyempitan pada foramen intervertebralis. Hal ini akan menyebabkan terjadinya kompresi/penekanan pada isi foramen intervertebralis ketika gerakan ekstensi, sehingga timbul nyeri yang pada akhirnyan akan menyebabkan penurunan mobilitas/jaringan terhadap suatu regangan yang di terima menurun.

          Pada uncinat yang memang sebagai sendi palsu yang terus mengalami friksi dan iritasi terus menerus akan timbul osteofit juga yang kemudian akan menekan kanalis spinalis sehingga timbul nyeri dan menurunkan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan.

          Berkurangnya tinggi diskus akan diikuti pengunduran ligament yang mengakibatkan fungsinya berkurang dan instabilitas.akibat nya nucleus pulposus dapat berpindah kearah posterior, sehigga menekan foramen longitudinal posterior menimbulkan nyeri dan menurunkan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan.

          Spasme otot-otot cervical juga dapat menyebabkan nyeri karena iskemia dari otot tersebut menekan pembuluh darah sehingga aliran darah akan melambat dan juga terjadi penurunan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan. Dari kesemua factor diatas akan menurunkan lingkup gerak sendi pada servikal.

6. Tanda dan gejala
a. Nyeri leher
          Gejala utama biasanya berupa nyeri pada bagian belakang leher atau daerah sekitar nya (M.trapezius) timbulnya nyeri terjadi secara perlahan-lahan walaupun terkadang timbul mendadak. Rasa nyeri sendiri biasanya bersifat kronik dan dihubungkan dengan adanya aktifitas yang berat atau keadaan umum yang menurun. Terkadang rasa nyeri menjalar kebahu atau lengan atas dan juga bisa mengenai daerah cervical atas yang menyebabkan nyeri occipital.

b. Kaku leher ( stiffness)
          Kaku leher dimulai pada pagi hari dan makin bertambah dengan aktivitas. Gerakan leher menjadi terbatas dan terkadang disertai dengan krepitasi dan nyeri.

c. Spasme otot cervical juga dapat menyebabkan iskemia dari otot tersebut
          Menekan pembuluh darah sehigga aliran darah akan melambat dan juga terjadi penurunan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan. Dari kesemua factor diatas akan menimbulkan penurunan lingkup gerak sendi pada cervical.

7. Komplikasi
          Spondyloartrosis cervical merupakan penyebab paling umum dari disfungsi saraf tulang belakang pada orang dewasa yang lebih tua. Pada sejumlah kasus spondyloartrosis cervical dapat memampatkan satu atau lebih saraf tulang belakang –sebuah kondisi yang disebut radikulopati cervical. Taji tulang dan penyimpangan lain yang disebabkan oleh spondyloartrosis cervical juga dapat mengurangi diameter kanal yang saraf tulang belakang. Ketika saluran spinal menyempit ketitik yang menyebabkan cedera tulang belakang. Kondisi yang dihasilkan disebut sebagai myelopathy serviks. Kedua radikulopati servikal dan myelopathy serviks dapat mengakibatkan cacat permanen.

8. Prognosis
          Prognosis untuk spondyloartrosis cervical sangat baik bila di tangani sedini mungkin dengan tepat dan intensif.

9. Diagnosa
          Untuk menentukan atau menegakkan diagnose pada kondisi spondyloartrosis cervical diperlukan suatu anamnesis yang meliputi pemeriksaan fisik (vital sign, inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerak, kemampuan fungsional, dan lingkungan aktivitas), dan pemeriksaan spesifik meliputi: pemeriksaan kekuataan otot,pemeriksaan luas gerak sendi, tes khususnya kompresi, dan pemeriksaan MRI, berdasarkan pemeriksaan tersebut, maka diperoleh diagnose: spondyloartrosis cervical.

10.  Diagnosa banding
a. Hernia nucleus pulposus (HNP)
          HNP adalah salah satu akibat dari trauma yang mengenai diskus intervertebralis. Pada tahap pertama robeknya annulus fibrosus dan menjebolkan hernia nucleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nucleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikular berada dalam bungkusan dura.

b. Spondylosis
          Spondylosis adalah kelainan degeneratif yang menyebabkan hilangnya struktur dan fungsi normal spinal. Walaupun peran proses penuaan adalah penyebab utama, lokasi dan percepatan degenerasi bersifat individual. Proses degeneratif pada regio cervical, thorak, atau lumbal dapat mempengaruhi discus intervertebral dan sendi facet.

 

B. Problematika fisioterapi

          Permasalahan fisioterapi meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kapsitas fisik dan gangguan fungsional. Permasalahan kapasitas fisik yang dapat ditemui adalah nyeri pada daerah leher,spasme dan adanya keterbatasan lingkungan gerak sendi baik aktif maupun pasif .sedangkan permasalahan kemampuan fungsional dapat di temui adanya kesulitan seperti melihat keatas dan kebawah.

1. Impairment
          Problematika yang berkaitan dengan impairment yaitu adanya nyeri yang menyebabkan spasme otot-otot di daerah leher atau cervical sehingga menyebabkan limitasi gerakan fleksi , ekstensi dan lateral fleksi. Penurunan kekuatan otot karena kurang aktifitas atau gerakan ,serta penurunan lingkup gerak sendi vertebra karena nyeri. Dan spasme otot ini timbul karena adanya rasa nyeri yang di rasakan penderita, yang mengakibatkan otot berkontraksi sehingga mengalami ketegangan. Ketegangan otot terkadang dirasakan satu sisi.

2. Fungctional limitation
          Fungctional limitation adalah suatu problem berupa penurunan atau keterbatasan dalam melakukan aktifitas fungsional yang merupakan akibat dari impairment sehingga penderita cendrung tidak mau menggerakan leher nya untuk melakukan aktifitas sehari-hari karena rasa nyeri yang sangat meganggu. Fungsional limitation yang dialami penderita spondyloartrosis cervical berupa gangguan untuk melihat kiri kanan atas dan bawah, duduk dalam waktu yang lama. berdiri dan berjalan lama karena tekanan pada discus intervertebralis osteofit. Dan timbul gejala-gejala sepertinya timbulnya kekakuan pada leher dan adanya keterbatasan gerak leher.

3.  Disability
          Disability merupakan ketidak mampuan dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan pasien yaitu penderita mengalami kesulitan dalam melakukan aktifitas karena adanya gangguan keterbatasan gerak pada leher gangguan tersebut antara lain : keterbatasan gerak dan nyeri pada saat menoleh dan mengangkat bahu. Dan penderita kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain seperti pada saat berbicara penderita masih kesulitan untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, pada saat berjalan, dan dari duduk keberdiri.

 

C. Teknologi Internvensi Fisioterapi

1. US ( Ultrasound )
          Ultrasound terapi merupakan suatu pengobatan yang menggunakan mekanisme getaran dari gelombang suara dengan frekuensi lebih dari 20.000Hz atau 20Hz. suara adalah peristiewa getaran mekanik dengan bentuk gelombang longitudinal yang berjalan melalui medium tertentu dengan frekuensi variable.berdasarkan frekuensi suara dibagi menjadi:infrasonic (>20Hz), audiosonik 20-20.000Hz) dan ultrasonic (>20.00 atau 20KHz).

          Pembagian frekuensi ini hanya berdasarkan dapat atau tidak dapat di dengar oleh telinga manusia . pembagian ini sifatnya subyektif , karena batas pendengaran manusia akan berubah akibat bertambahnya umur.

Dalam bidang medis gelombang ultrasonic digunakan untuk :

  • Diagnosis,misalnya “Doppler Blood Flow”(Frekuensi 5-10 Hz,intensitas 203 mw/cm) dan pada “endoschopy” pemeriksaan organ dalam contohnya lambung.
  • Pembedahan,misalnya penghancuran batu kandung kemih(frekuensi 0,10 Mhz, intensitas 20 -100w/cm).
  • Terapeutik disebut juga terapi Ultrasound (frekuensi 0,7 Mhz -3Mhz , intensitas 0,1-5 w/cm) yang banyak digunakan fisioterapi dalam rehabilitas.

a) Efek Mekanik
          Gelombang masuk ke dalam tubuh, maka efek pertama yang terjadi di dalam tubuh adalah efek mekanik.gelombang US menimbulkan adanya peregangan dan perapatan dalam jaringan dengan frekuensi dari US. Oleh karena itu terjadi variasi tekanan sehingga menimbulkan efek mekanik yang biasa dikenal dengan istilah “micromassage”.

b) Efek Thermal
          Micromassage pada jaringan akan menimbulkan efek friction yang hangat. Panas yang ditimbulkan jaringan tidak sama tergantung dari nilai akustik impedance, pemilihan bentuk gelombang, intensitas yang digunakan dan durasi pengobatan. Area yang paling banyak mendapatkan panas adalah jaringan interface yaitu antara kulit dan otot serta periosteum. Hal ini disebabkan oleh adanya gelombang yang diserap dan dipantulakan. Agar efek panas tidak terlalu dominan digunakan intermiten ultra sound yang efek terapeutiknya lebih dominan di bandingkan efek panas.

c) Efek biologis
          Efek biologis yang dihasilkan merupakan hasil gabungan dari pengaruh mekanik dan thermal diantaranya, meningkatkan sirkulasi darah, relaksasi otot, meningkatkan regenerasi jaringan, pengaruh terhadap saraf perifer dan mengurangi rasa nyeri.

  • Indikasi
              Dari US adalah keadaan-keadaan post trauma seperti : Contosio distorsi, luxaxio, fraktur, rheumatoid pada stadium tidak aktif, kelainan pada sikulasi darah, penyakit-penyakit pada organ dalam, kelainan pada kulit dan luka terbuka.
  • Kontra indikasi
              Kontra indikasi absolid berupa : mata,jantung,uterus pada wanita hamil,epiphseal plates dan testis, sedangkan kontra indikasi relative yaitu : post laminectomi, hilangnya sensibilitas, endorprothese, tumor, post traumatic, tromboplebitis, varices septis infalmation dan diabetes militus. Efek thermal Ultra Sound pengaruh lebih kecil mengingat durasi panas yang diperoleh jaringan hanya selama 1 (satu) menit. Tetapi bila terkonsentrasi pada satu jaringan dapat menimbulkan ‘heat burn’, yaitu bila pada tempat menonjol atau tranduser statis.

2.  Contract Rileks Streching
          Contra rileks stretching adalah suatu teknik terapi latihan khusus yang ditujukan pada otot yang spasme, tegang/memendek untuk memperoleh pelemasan dan peregangan jaringan otot,teknik ini dilakukan kontraksi isometric, pada otot sendi bahu diperoleh gerakan minimal sendi bahu tanpa menimbulkan iritasi noxius dan sekaligus memacu sirkulasi dan proses metabolism sruktur jaringan sendi, disini akan di peroleh peningkatan kelenturan jaringan ikat sendi dan nyeri akan berkurang.

Pelaksanaan :

  • posisi pasien: tidur telentang atau duduk diatas kursi
  • kepala menunduk dan diputar keluar
  • kepala menoleh ke kanan dan kekiri dengan hitungan 8 kali
  • kepala diarahkan ke atas dan ke bawah
  • kepala di putar dari arah kanan ke kiri dan sebaliknya 8 kali putaran.

a. Aktif Stretching
          Yaitu penguluran yang dilakukan secara aktif oleh pasien sendiri, dan otot-otot pasien dalam keadaan rileks.

b. Pasif Stretching
          Yaitu penguluran yang dilakukan dengan menggunakan tenaga dari luar atau tenaga dari terapis, sedangkan otot-otot pasien dalam keadaan rileks. streching merupakan suatu gerakan baik aktif maupun pasif dimana otot berada dalam posisi mengelur,pada akhir gerakan biasanya ditahan beberapa hitungan kemudian dilakukan berulang-ulang hingga lebih kurang 8 kali penguluran. Perubahan akan terjadi pada semua jaringan selama penguluran. Efek pada spondyloartrosis tergantung pada waktu durasi peregang yang digunakan pembuluh darah akan meregangkan dengan jaringan ikat disekitarnya dan menahan peregangan yang baik pada individu sehat.

Penatalaksanaan Ultra Sound dan Contract Rileks Streching Pada Penderita Spondyloartrosis Cervical